Hampir Mati Karena Sistem Zonasi

Baru-baru ini tengah ramai menjadi perbincangan tentang Sekolah Swasta baik SMP maupun SMA yang kekurangan siswa saat Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2024 dibuka. Bahkan tak ada satupun siswa yang mendaftar.

Fenomena seperti ini sesungguhnya sangat tidak elok untuk diperbincangkan, terlebih ketika lembaga pendidikan dalam tanda kutip "hampir mati" karena sistem zonasi.

Bagaimana tidak, banyak diberitakan di media sosial terkait Sekolah Swasta yang minim sekali pendaftar bahkan tidak ada siswa yang mendaftar.

Dikutip dari Antaranews.com, Ombudsman RI Perwakilan Banten menemukan sebanyak 4.683 kursi masih kosong usai Pelaksanaan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA di Provinsi Banten.

Selain itu, dikutip dari Tangerang Update menyebutkan sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) terancam tutup akibat kekurangan siswa.

Lantas, siapa yang patut dimintai pertanggungjawaban atas hal tersebut? Jelas Pemerintah!

Pemerintah, melalui lembaga terkait seyogyanya memikirkan nasib Sekolah Swasta yang ada, membuat regulasi yang dapat mengakomodir kebutuhan Sekolah Swasta, terlebih soal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Hemat penulis, pemerintah seharusnya membuat aturan main dalam melaksanakan PPDB dengan sistem zonasi agar tidak memunculkan kesenjangan antara Sekolah Swasta dengan Sekolah Negeri.

Rasanya, perlu ditinjau kembali terkait pelaksanaan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) sistem zonasi agar tidak memunculkan polemik.

Disi lain, dalam investigasi yang dilakukan oleh Ombudsman RI perwakilan Provinsi Banten, dalam pelaksanaan PPDB di Provinsi Ombudsman RI perwakilan Provinsi Banten setidaknya menemukan adanya indikasi kecurangan dalam pendaftaran PPDB jalur prestasi.

Disebutkan Ombudsman Banten, banyak siswa yang melampirkan sertifikat olimpiade "bodong" untuk memuluskan masuk sekolah.

Artinya memang betul, secara teknis pelaksanaan PPDB perlu adanya pengawasan yang ketat agar tidak ada oknum yang mempermainkan dunia pendidikan.

Tulisan ini bersifat opini, silakan kritik melalui kolom komentar!

Posting Komentar

0 Komentar